Selasa, 21 September 2010

RENCANA DAN PELAKSANAAN PTK

Merencanakan suatu kegiatan merupakan suatu aktivitas sehari-hari bagi setiap orang yang hidup secara teratur. Rencana merupakan suatu kebutuhan pokok dalam melaksanakan setiap kegiatan. Meskipun membuat rencana, seperti membuat rencana pembelajaran merupakan kegiatan rutin, namun ada kalanya rencana harus dibuat secara khusus.

A. MENGIDENTIFIKASI MASALAH
Suatu rencana PTK diawali dengan adanya masalah yang dirasakan atau disadari oleh guru. Guru merasa ada yang tidak beres di kelasnya, yang jika dibiarkan akan berdampak buruk bagi proses dan hasil belajar siswa. Hopkins (1993) menekankan bahwa pada awalnya guru mungkin bingung untuk mengidentifikasi masalah, oleh karena itu, guru tidak harus selalu mulai dengan masalah. Guru dapat mulai dengan suatu gagasan untuk melakukan perbaikan, kemudian mencoba memfokuskan gagasan tersebut.
Tidak semua guru mampu merasakan adanya masalah, meskipun tidak mustahil semua guru punya masalah yang berkaitan dengan praktik pembelajaran yang dikelolanya. Bahkan mungkin ada guru yang mendiamkan saja masalahnya, meskipun ia sendiri merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres di kelasnya, yang memerlukan perbaikan segera. Dampak dari sikap ini sangat jelas yaitu menurunnya kualitas pembelajaran.
Agar mampu merasakan dan mengungkapkan adanya masalah, seorang guru dituntut jujur pada diri sendiri dan melihat pembelajaran yang dikelolanya sebagai bagian penting dari dunianya.

B. MENGANALISIS DAN MERUMUSKAN MASALAH
Setelah masalah teridentifikasi, guru perlu melakukan analisis sehingga dapat merumuskan masalah dengan jelas. Tentu saja sebelum menganalisis masalah, guru mengumpulkan data yang terkait dengan masalah tersebut. Tanpa melakukan analisis, mungkin masalah yang kita identifikasi masih kabur.
Analisis dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri (refleksi), dan dapat pula dengan mengkaji ulang berbagai dokumen seperti pekerjaan siswa, daftar hadir, atau daftar nilai siswa.
Selanjutnya masalah perlu dijabarkan secara operasinal agar rencana perbaikannya dapat lebih terarah. Misalnya, masalah tugas dan bahan belajar yang bagaimana yang dapat meningkatkan motivasi siswa. Dengan terumuskannya masalah secara opersional guru sudah mulai membuat rencana perbaikan atau rencana PTK.

C. MERENCANAKAN PERBAIKAN
Dalam membuat rencana perbaikan perlu menempuh langkah-langkah. Pertama, merumuskan cara perbaikan yang akan ditempuh dalam bentuk hipotesis tindakan. Hipotesis tindakan adalah dugaan guru tentang cara yang terbaik untuk mengatasi masalah. Hipotesis dibuat berdasarkan kajian berbagai teori, kajian hasil penelitian yang pernah dilakukan dalam masalah yang serupa, diskusi dengan teman sejawat atau dengan pakar, serta refleksi pengalaman sendiri sebagai guru. Berdasar hasil kajian tersebut guru perlu mengkaji berbagai alternatif tindakan.
Kedua, menganalisis kelayakan hipotesis tindakan. Setelah menetapkan alternatif hipotesis yang terbaik, hipotesis ini masih perlu dikaji kembali kelayakannya dikaitkan dengan kemungkinan pelaksanaannya. Dengan perkataan lain, guru harus bertanya, mungkinkah rencana tindakan tersebut dilaksanakan.

D. MELAKSANAKAN PTK
Dalam melaksanakan PTK ada dua tahap yang perlu dilakukan, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Tahap persiapan meliputi:

  1. Pembuatan rencana pembelajaran beserta skenario tindakan yang akan dilaksanakan. Skenario mencakup langkah-langkah yang dilakukan oleh guru dan siswa. Terkait dengan rencana pembelajaran, guru tentu perlu menyiapkan berbagai bahan seperti tugas dan bahan belajar yang dibuat sesuai dengan hipotesis yang dipilih, alat peraga, serta buku-buku yang relevan.
  2. Menyiapkan fasilitas atau sarana pendukung yang diperlukan seperti gambar-gambar, meja tempat mengumpulkan tugas, atau sarana lain yang terkait.
  3. Menyiapkan cara merekam dan menganalisis data yang berkaitan dengan proses dan hasil perbaikan. Dalam hal ini guru harus menetapkan apa yang harus direkam, bagaimana cara merekamnya, dan bagaimana cara menganalisisnya. Agar dapat melakukan hal tersebut guru harus menetapkan indikator keberhasilan, misalnya sikap siswa ketika diberi tugas, presentase siswa yang mengumpulkan tugas tepat waktu, kualitas penyelesaian tugas siswa, persentase kehadiran siswa, serta nilai siswa dalam tes formatif. Jika indikator ini sudah ditetapkan, guru dapat menentukan cara merekam dan menganalisis data.
  4. Jika perlu, guru perlu menstimulasikan pelaksanaan tindakan. Dalam hal ini guru dapat bekerja sama dengan teman sejawat atau berkolaborasi dengan dosen LPTK.

Setelah persiapan selesai tiba saatnya guru melaksanakan tindakan dalam kelas yang sebenarnya. Agar pelaksanaan ini dapat berlangsung secara terarah, guru perlu memperhatikan beberapa prinsip, yang oleh Hopkins (1993) disebut sebagai kriteria PTK yang dilakukan oleh guru. Kriteria dimaksud adalah:

  1. Pekerjaan utama guru adalah mengajar. Oleh karena itu, metodologi penelitian yang sedang dilaksanakan tidak boleh mengganggu komitmen guru dalam mengajar. Ini berarti, guru tidak boleh mengorbankan siswa demi penelitian yang sedang dilaksanakan.
  2. Cara pengumpulan atau perekaman data jangan sampai terlalu menyita waktu guru, sehingga guru sampai kehabisan napas. Esensi pelaksanaan PTK memang harus disertai dengan observasi dan interpretasi, dan pengumpul data yang paling baik adalah guru. Namun jika kegiatan ini menyita waktu guru terlalu banyak, konsentrasi guru dalam mengajar akan terganggu. Untuk mengatasi masalah ini, guru dapat memanfaatkan alat perekam seperti tape-recorder atau meminta bantuan teman sejawat.
  3. Metodologi yang diterapkan haruslah reliabel atau handal, sehingga memungkinkan guru mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi kelasnya.
  4. Masalah yang ditangani guru haruslah sesuai dengan kemampuan dan komitmen guru.
  5. Sebagai peneliti, guru harus memperhatikan berbagai aturan (etika) yang terkait dengan tugas-tugasnya, misalnya menyampaikan kepada kepala sekolah tentang rencana tindakan yang akan dilakukan.
  6. PTK harus mendapat dukungan dari berbagai personil sekolah. Artinya, semua personil sekolah harus punya persepsi yang benar tentang PTK, dan apa yang ingin dicapai melalui PTK.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar