Belajar dan pembelajaran bagaikan dua sisi mata uang. Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang permanen berdasarkan pengalaman yang diperoleh dan diinternalisasikan oleh peserta didik. Seseorang dikatakan telah belajar apabila dalam dirinya terjadi perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak peduli menjadi peduli. Perubahan itu timbul karena terjadi pengembangan pengetahuan dan keterampilan baru, serta perubahan sikap. Sementara itu, pembelajaran atau pengajaran adalah segenap upaya yang dilakukan untuk menciptakan situasi agar peserta didik belajar.
Belajar tidak selalu terjadi dengan sendirinya. Meskipun kunci terjadinya belajar terletak pada kemauan siswa, tetapi kemauan itu tidak selalu muncul dengan sendirinya. Untuk itulah diperlukan guru, tutor, atau pembimbing dengan berbagai cara berusaha untuk menciptakan situasi yang dapat mendorong siswa untuk belajar.
Maksud perilaku dalam pengertian belajar, terkait dengan ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam kegiatan pembelajaran ketiganya muncul secara bersamaan dengan kadar yang bervariasi. Masing-masing ranah memiliki jenjang kesulitan yang berbeda-beda, yang disebut dengan istilah “taksonomi”. Masing-masing jenjang dari setiap ranah bertolak dari yang paling mudah dan sederhana menuju ke tingkatan yang sulit dan rumit. Jenjang yag lebih rendah merupakan prasyarat bagi jenjang yang lebih tinggi. Dengan demikian, penguasaan seseorang atas suatu jenjang tertentu berarti yang bersangkutan secara otomatis menguasai jenjang di bawahnya.
Sesuai dengan jenjang hakikat di atas, kegiatan pembelajaran harus dikelola dengan prinsip-prisnsip:
- Berpusat pada siswa
- Siswa belajar dengan melakukan, learning by doing
- Mengembangkan kemampuan sosial siswa
- Mengembangkan keingintahuan, imajinasi, dan fitrah siswa
- Mengembangkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah
- Mengembagkan kreativitas siswa
- Mengembangkan kemampuan siswa menggunakan ilmu dan teknologi
- Menumbuhkan kesadaran dalam diri siswa sebagai warga negara yang baik
- Mendorong prinsip belajar sepanjang hayat.
Oleh karena itu, agar pembelajaran berlangsung efektif, guru perlu merancang proses pembelajaran yang:
- memberi peluang kepada siswa agar dapat secara langsung berpartisipasi dalam proses pembelajaran
- mempertimbangkan perbedaan individu dan dapat memupuk kemandirian di samping kerja sama
- kondusif, baik dalam iklim sosial dan psikologis
- mengembangkan kreativitas dan rasa ingin tahu
- memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan apa yang telah dilakukan.
Di samping hal tersebut, guru perlu memperhatikan kriteria keberhasilan pembelajaran. Sudjana (1989) meninjau kriteria keberhasilan pembelajan dari dua segi, proses dan hasil belajar yang dicapai. Dari segi kriteria proses, pembelajaran haruslah merupakan interaksi dinamis sehingga siswa mampu mengembangkan potensinya melalui belajar sendiri dan melalui tujuan yang telah ditetapkan. Sementara itu dari segi hasil, keberhasilan pembelajaran dilihat dari tingkat penguasaan tujuan oleh siswa baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitas.