Minggu, 10 Oktober 2010

Hakikat Belajar dan Pembelajaran

Belajar dan pembelajaran bagaikan dua sisi mata uang. Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang permanen berdasarkan pengalaman yang diperoleh dan diinternalisasikan oleh peserta didik. Seseorang dikatakan telah belajar apabila dalam dirinya terjadi perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak peduli menjadi peduli. Perubahan itu timbul karena terjadi pengembangan pengetahuan dan keterampilan baru, serta perubahan sikap. Sementara itu, pembelajaran atau pengajaran adalah segenap upaya yang dilakukan untuk menciptakan situasi agar peserta didik belajar.

Belajar tidak selalu terjadi dengan sendirinya. Meskipun kunci terjadinya belajar terletak pada kemauan siswa, tetapi kemauan itu tidak selalu muncul dengan sendirinya. Untuk itulah diperlukan guru, tutor, atau pembimbing dengan berbagai cara berusaha untuk menciptakan situasi yang dapat mendorong siswa untuk belajar.

Maksud perilaku dalam pengertian belajar, terkait dengan ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam kegiatan pembelajaran ketiganya muncul secara bersamaan dengan kadar yang bervariasi. Masing-masing ranah memiliki jenjang kesulitan yang berbeda-beda, yang disebut dengan istilah “taksonomi”. Masing-masing jenjang dari setiap ranah bertolak dari yang paling mudah dan sederhana menuju ke tingkatan yang sulit dan rumit. Jenjang yag lebih rendah merupakan prasyarat bagi jenjang yang lebih tinggi. Dengan demikian, penguasaan seseorang atas suatu jenjang tertentu berarti yang bersangkutan secara otomatis menguasai jenjang di bawahnya.

Sesuai dengan jenjang hakikat di atas, kegiatan pembelajaran harus dikelola dengan prinsip-prisnsip:

  1. Berpusat pada siswa
  2. Siswa belajar dengan melakukan, learning by doing
  3. Mengembangkan kemampuan sosial siswa
  4. Mengembangkan keingintahuan, imajinasi, dan fitrah siswa
  5. Mengembangkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah
  6. Mengembagkan kreativitas siswa
  7. Mengembangkan kemampuan siswa menggunakan ilmu dan teknologi
  8. Menumbuhkan kesadaran dalam diri siswa sebagai warga negara yang baik
  9. Mendorong prinsip belajar sepanjang hayat.

Oleh karena itu, agar pembelajaran berlangsung efektif, guru perlu merancang proses pembelajaran yang:

  • memberi peluang kepada siswa agar dapat secara langsung berpartisipasi dalam proses pembelajaran
  • mempertimbangkan perbedaan individu dan dapat memupuk kemandirian di samping kerja sama
  • kondusif, baik dalam iklim sosial dan psikologis
  • mengembangkan kreativitas dan rasa ingin tahu
  • memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan apa yang telah dilakukan.

Di samping hal tersebut, guru perlu memperhatikan kriteria keberhasilan pembelajaran. Sudjana (1989) meninjau kriteria keberhasilan pembelajan dari dua segi, proses dan hasil belajar yang dicapai. Dari segi kriteria proses, pembelajaran haruslah merupakan interaksi dinamis sehingga siswa mampu mengembangkan potensinya melalui belajar sendiri dan melalui tujuan yang telah ditetapkan. Sementara itu dari segi hasil, keberhasilan pembelajaran dilihat dari tingkat penguasaan tujuan oleh siswa baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitas.

Observasi dalam PTK

Ditinjau dari cara melakukannya, observasi dalam PTK, dibedakan menjadi empat macam, yaitu: (1) observasi terbuka, (2) observasi terfokus, (3) observasi terstruktur, dan (4) observasi sistemik.

Dalam observasi terbuka, pengamat tidak menggunakan lembar observasi, melainkan hanya menggunakan kertas kosong untuk merekam pelajaran yang diamati. Dia dapat menggunakan teknik-teknik tertentu untuk merekam jalannya perbaikan sehingga dapat merekonstruksikan pelajaran yang berlangsung.

Observasi terfokus secara khusus ditujukan untuk mengamati aspek-aspek tertentu dari pembelajaran. Misalnya yang diamati kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi, dampak penguatan bagi siswa, atau jenis pertanyaan yang diajukan guru.

Observasi terstruktur menggunakan instrumen observasi yang terstruktur dan siap pakai, sehingga pengamat tinggal membubuhkan tanda ceklist (ü) pada tempat yang disediakan. Misalnya yang direkam adalah frekuensi penguatan yang diberikan, atau jumlah pertanyaan yang diajukan, atau jumlah siswa yang mengajukan pertanyaan. Pengamat hanya tinggal memberikan tanda (ü) setiap kali peristiwa itu muncul.

Observasi sistemik lebih rinci daripada observasi terstruktur dalam kategori data yang diamati. Misalnya dalam hal memberikan penguatan, data dikategorikan dalam penguatan verbal dan nonverbal. Contoh lain yang sudah dikenal amat luas adalah kategori pengamatan dari Flanders yang membagi data pengamatan menjadi tiga kategori, yaitu pembicaraan guru, pembicaraan siswa, dan sepi atau senyap.

Pengumpulan dan Analisis Data dalam PTK

PENGUMPULAN DATA

Pengumpulan data dilakukan oleh guru sebagai peneliti selama proses pelaksanaan tindakan. Data dapat dikumpulkan dengan berbagai teknik, seperti observasi, wawancara, catatan harian, angket, dan sebagainya. Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data dalam PTK.

Prinsip dan Jenis Observasi
Hopkins (1993) menyebutkan ada lima prinsip dasar dalam pengamatan, (1) perencanaan bersama, (2) fokus, (3) membangun kriteria, (4) keterampilan observasi, dan (5) balikan atau feedback.

Perencanaan yang baik diawali dengan perencanaan bersama antar pengamat dan yang diamati. Perencanaan bersama ini bertujuan untuk membangun rasa saling percaya dan menyepakati beberapa hal seperti fokus yang akan diamati, pelajaran yang akan berlangsung, bagaimana sikap pengamat kepada siswa, dan di mana pengamat akan duduk.

Fokus pengamatan mungkin sangat luas atau umum, tetapi dapat pula sangat khusus atau spesifik. Fokus yang sangat luas akan mengakibatkan pengamat lebih banyak mengandalkan pertimbangan yang bersifat subyektif dalam menafsirkan data, sehingga tidak banyak manfaatnya bagi guru yang diamati, kecuali berbagai hal yang telah disepakati sebelumnya. Sebaliknya, fokus yang spesifik akan menghasilkan data yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan profesional guru.

Observasi akan sangat membantu guru, jika kriteria keberhasilan atau sasaran yang ingin dicapai sudah disepakati sebelumnya. Misalnya, guru menargetkan akan melibatkan minimal 30 orang dari 35 orang siswanya dalam diskusi kelas. Dengan kriteria seperti ini, pengamat dapat merekam data yang memang relevan.

Seorang pengamat yang baik minimal memiliki tiga keterampilam, yaitu: (1) dapat menahan diri untuk tidak terlalu cepat memutuskan dalam menginterpretasikan suatu peristiwa; (2) dapat mencipatkan suasana yang memberikan dukungan dan menghindari terjadinya suasana yang menakutkan bagi guru atau siswa; dan (3) menguasai berbagai teknik untuk menemukan peristiwa atau interaksi yang tepat untuk direkam, serta alat/instrumen perekam yang efektif untuk episode tertentu.

Hasil obeservasi dapat dimanfaatkan jika ada balikan yang tepat, yang disajikan dengan memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Diberikan segera setelah pengamatan, dalam bentuk diskusi.
  2. Balikan diberikan berdasarkan data faktual yang direkam secara cermat dan sistematis.
  3. Data diinterpretasikan sesuai dengan kriteria yang sudah disepakati sebelumnya.
  4. Guru yang diamati diberi kesempatan pertama untuk menafsirkan data.
  5. Diskusi mengarah pada perkembangan strategi untuk membangun apa yang telah dipelajari.