Rabu, 03 November 2010

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Penelitian Tindakan Kelas, lazim disebut PTK, merupakan terjemahan dari Classroom Action Research, yaitu satu Action Research yang dilakukan di kelas. Action Research diterjemahkan mejadi penelitian tindakan yang oleh Carr & Kemmis (McNiff, 1991, p.2) didefinisikan sebagai berikut: Action research is a form of self-reflective enquiry undertaker by participants (teachers, student or principals, for example) in social (including educational) situations in order to improve the nationality and justice of (1) their own social or educational practices, (2) their understanding of these practices, and (3) the situasions (and instutions) in which the practices are carried out.
Dari pengertian tersebut, kita temukan sejumlah ide pokok sebagai berikut:

1. Penelitian tindakan adalah satu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri.
2. Penelitian tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti guru, siswa, atau kepala sekolah.
3. Penelitian tindakan dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan.
4. Tujuan penelitian tindakan adalah memperbaiki: dasar pemikiran dan kepantasan dari praktik-praktik, pemahaman terhadap praktik tersebut, serta situasi atau lembaga tempat praktik tersebut dilaksanakan.

KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PTK memiliki ciri khas yang menjadi pembeda dengan jenis penelitian lainnya, yaitu:
  1. Adanya masalah dalam PTK dipicu oleh munculnya kesadaran pada diri guru bahwa praktik yang dilakukannya selama ini di kelas mempunyai masalah yang perlu diselesaikan.
  2. Self-reflective inquiry, atau penelitian melalui refleksi diri. Pada penelitian biasa pengumpulan data dari lapangan atau objek atau tempat lain sebagai responden, maka PTK mensyaratkan guru mengumpulkan data dari praktiknya sendiri melalui refleksi diri.
  3. Penilitan tindakan kelas dilakukan di dalam kelas, sehingga fokus penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran berupa perilaku guru dan siswa dalam melakukan interaksi.
  4. Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran. Perbaikan dilakukan secara terus-menerus, selama kegiatan penelitian dilakukan.

KONDISI YANG DIPERSYARATKAN DALAM PTK


Penelitian Tindakan Kelas merupakan satu cara untuk menumbuhkembangkan pembaruan yang dapat meningkatkan atau mempertbaiki hasil belajar siswa. Agar PTK dapat dilangsungkan secara benar, berbagai kondisi harus dipenuhi. Kondisi tersebut antara lain sebagai berikut:
  1. Sekolah harus memberikan kebebasan bagi guru untuk melakukan PTK, berkolaborasi dengan teman guru lainnya, dapat secara bebas meminta teman untuk menjadi pengamat bagi kelasnya, dan bebas berdiskusi tentang kemajuan kelasnya, disamping dapat menumbuhkan rasa saling mempercayai. Namun keyataan menunjukkan bahwa birokrasi dan formalitas yang ada di sekolah tidak menunjang terjadinya itu semua, sebagaimana yang diungkapkan oleh Shumsky dan Holly (dalam McTagganrt, 1991). Kondisi ini tidak menunjang pelembagaan PTK di sekolah, sehingga PTK hanya dianggap eksprerimen sesaat saja.
  2. Sejalan dengan pemikiran pada butir 1, birokarasi dan hierarki  organisasi di sekolah hendaknya diminimalkan. Sebaliknya yang harus ditumbuhkan adalah kolaborasi atau kerja sama yang saling menguntungkan, serta pengambilan keputusan secara bersama.
  3. Sekolah semestinya selalu mempertanyakan apa yang diinginkan bagi sekolahnya. Jika keinginan tersebut memang merupakan komitmen sekolah, maka PTK sebagai satu bentuk inovasi di sekolah akan dapat tumbuh subur, kegiatan PTK mungkin akan menjadi kegiatan rutin bagi guru.
  4. PTK mensyaratkan keterbukaan dari semua staf sekolah untuk membahas masalah yang dihadapi tanpa rasa khawatir  akan dicemooh. Diskusi dengan teman sejawat tentang masalah yang dihadapi dan kemudian setiap staf menganggap masalah yang dibahas merupakan masalah bersama, merupakan kondisi yang dipersyaratkan untuk berkembangnya PTK di sekolah.
  5. Sikap kepala sekolah dan staf administrasi harus menunjang terjadinya pembaharuan. Sikap negatif yang ditunjukkan meskipun hanya selintas akan merusak iklim inovasi yang sedang tumbuh.
  6. Guru dan siswa harus mempunyai rasa percaya diri yang tinggi bahwa mereka sedang melakukan satu pembaharuan yang didukung oleh kepala sekolah dan juga orang tua.
  7. Guru harus siap menghadapi berbagai konflik karena yang baru biasanya mendapat perhatian lebih daripada yang lama yang sudah diakrabi setiap hari. Hal ini perlu untuk menghindari meunculnya kecemburuan sosial.