Sabtu, 09 April 2011

PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK PENGEMBANGAN KECERDASAN NONKANONIK *)

===================================
makalah Seminar Pendidikan Karakter
oleh AGUS SUPRIJONO
26 Maret 2011
Auditorium Teknik Sipil ITS
===================================

A.Rasionalitas Urgensitas Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Paradigma Cartesian-Newtonian menempatkan manusia sebagai subjek. Manusia dipandang sebagai pusat dunia atau antroposentrisme. Descartes melalui pernyataannya cogito ergo sum mencetuskan kesadaran subjek pada dirinya. Demikian pula Newton, pandangan tentang subjektivisme tampak pada ambisi manusia untuk menjelaskan seluruh fenomena alam raya melalui mekanika yang dirumuskan dalam formula matematika. Pemikiran Cartesian-Newtonian sebenarnya merupakan proses penyempurnaan secara kumulatif kualitas subjetivitas dengan segala kemampuan objektif akal budinya dalam mencapai satu tingkatan sosial yang disebut dengan kemajuan. Cara pandang Cartesian-Newtonian membawa manusia kepada pengembangan rasionalitas teknik atau rasionalitas instrumental dan keterputusan dari nilai-nilai mitos yang irasional. Pengembangan rasionalitas subjektif tersebut telah melahirkan kemajuan teknologi dan industrialisasi yang menandai sebuah konstruksi budaya yang dikenal dengan modernisme.

Giddens membuat analogi dinamika kehidupan modern yang sangat dahsyat dan tidak terkendali dengan sebuah “panser raksasa” (juggernaut). Juggernaut menjelajah dunia dengan mengembangkan sistemnya, baik dalam kemampuan langkah, jarak maupun kapasitasnya. Demikian halnya dengan modernitas sesuatu yang bergerak melalui rentang waktu dan ruang fisik. Ibarat juggernaut modernitas tidak mengikuti satu jalan tunggal, bukan satu bagian tetapi terdiri dari sejumlah bagian berlawanan dan saling bertentangan. Menurut Giddens empat institusi mendasar yang menyangga modernitas adalah kapitalisme, industrialisme, kontrol, dan kekuatan militer atau pengendalian atas alat-alat kekerasan.

Dalam bukunya Modernity of Self Identity, persoalan modernitas dilihat oleh Giddens dalam perspektif mikro sebagai masalah self (diri). Dalam terpaan modernitas self menjadi sesuatu yang direfleksikan, diubah, dan dibentuk. Self adalah produk dari eksplorasi dan produk dari perkembangan hubungan sosial yang intim. Modernitas merupakan ancaman bagi ketidakberartian self. Dalam modernitas self terpenjarakan oleh segala sesuatu yang berada di luar self. Modernisasi mengancam eksistensi diri manusia, manusia terancam tidak bisa menjadi dirinya sendiri.

Seperti halnya Giddens, Erich Fromm pakar psikologi ini mengungkapkan bahwa manusia modern mengalami ironi, di satu sisi manusia modern berjaya menggapai capaian-capaian materi, namun di sisi lain kehidupan mereka dipenuhi keresahan jiwa. Orang-orang modern banyak yang rentan terhadap stress, depresi, merasa teralinasi, mengalami berbagai macam penyakit kejiwaan, hingga memutuskan untuk bunuh diri. Russel mengatakan bahwa peradaban modern ditandai oleh putusnya rantai kemajuan material dan kemajuan moral-spiritual.

Dalam modernitas manusia dihadapkan pada dua pilihan sulit yaitu sense of Being dan sense of Having. Dua hal yang dilematis itu karena terkait dengan kodrati manusia. Dalam pandangan Fromm, kodrat manusia bukanlah sekumpulan potensi tertentu yang sekedar menerima apa yang didapat dari lingkungan budaya,di samping apa yang telah didapat dari lingkungan budayanya ada faktor dari dalam yang merupakan dorongan eksistensial manusia yang terdiri dari dorongan produktif dan non produktif. Dorongan produktif identik dengan sikap cinta akan kehidupan yang berakar, sedangkan dorongan non-produktif identik dengan sikap destruktif-nekrofili yang dicerminkan oleh sikap reseptif, eksploitatif, menimbun serta karakter pasar. Dorongan eksistensial produktif dan non produktif ini berakar dalam orientasi hidup manusia sense of Being dan sense of Having.

Pendidikan merupakan upaya sadar mengembangkan keseluruhan potensi kemanusiaan yang secara kodrati ada pada diri manusia untuk menjadi suatu kompetensi-kompetensi yang teraktualisasi. Pendidikan adalah upaya menjadikan manusia itu manusia (humanisasi). Pendidikan bertujuan membangun totalitas kemampuan manusia sebagai individu maupun anggota masyarakat. Pendidikan mengembangkan seluruh domain kemanusiaan yang ada pada diri manusia yaitu kognitif, afektif, psikomotorik, dan konatif. Pendidikan kognitif dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, potensi, dan daya intelektualias. Pendidikan afektif ditujukan untuk penanaman nilai-nilai moralitas dan religiositas, pemupukan sikap emosionalitas dan sensibilitas. Pendidikan psikomotor mencakup pengembangan kemampuan adaptasi sosial, pemupukan daya sensitivitas terhadap persoalan sosial kemasyarakatan, pembinaan kapasitas diri untuk memperluas berbagai pilihan dalam pekerjaan, kesehatan, kehidupan keluarga, dan masalah-masalah praktis yang lain. Pendidikan konatif yaitu pendidikan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan kognitif, sikap, nilai, dan moral tertentu untuk menjadi kebiasaan dan jati diri. Singkatnya, pendidikan sejatinya adalah membangun manusia dalam spektrum holistik yang melingkupi keseluruhan potensi yang dimiliki manusia. Melalui proses pendidikan seluruh dimensi kemanusiaan dapat tumbuh-kembang secara optimal.

Salah satu tantangan dunia pendidikan di era modern adalah mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mampu mengambil keputusan atas berbagai persoalan yang dihadapinya. Salah satu persoalan itu adalah pilhan atas orientasi hidup antara sense of Being dan sense of Having. Apa yang dapat dilakukan oleh pendidikan agar peserta didik mampu membuat keputusan atas persoalan dilematis yang dihadapinya (persoalan sense of Being dan sense of Having).

Kemampuan pengambilan keputusan melibatkan berbagai kompetensi. Kemampuan pengambilan keputusan harus didukung oleh sinergitas kompetensi yaitu cognitive competence, affective competence, practical competence, conative competence. Pengembangan kemampuan peserta didik mengambil keputusan bisa dikembangkan melalui pendidikan budaya dan karakter bangsa. Sebab, pendidikan tersebut menekankan pada moral yang melingkupi cognitive competence, affective competence, dan practical competence. Melalui nilai-nilai moral yang baik yang terinternalisasi dalam diri peserta didik maka peserta didik dapat membuat keputusan yang terbaik bagi dirinya maupun bagi orang lain.

Pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan kareakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya sebagai anggota maysarakat dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif.

Pendidikan budaya dan karakter bangsa menekankan pentingnya karakter yang baik yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action. Moral knowing mencakup moral awarness, knowing moral values, perspective taking, moral reasoning, decision making dan self knowledge. Moral feeling adalah aspek lain yang harus ditanamkan kepada peserta didik karena merupakan sumber energi diri manusia untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral. Moral feeling meliputi conscience, self-esteem, empathy, self-control, dan humanity. Moral action adalah bagaimana membuat pengetahuan moral dapat diwujudkan menjadi tindakan nyata. Perbuatan/tindakan moral merupakan hasil dari dua komponen karakter lainnya.

Pendidikan budaya dan karakter bangsa sangat penting untuk membangun peradaban suatu bangsa dan jati diri manusia. Pendidikan ini beraksentuasi pada be yourself melalui penguatan nilai-nilai moral yang baik. Pendidikan karakter menjadi filter bagi diri manusia untuk tidak terhempas oleh modernitas hingga dirinya terpenjarakan oleh simbol-simbol modern. Berdasarkan keteguhan terhadap nilai-nilai moral yang baik yang tertanam pada dirinya, maka peserta didik akan mampu membuat suatu keputusan atas pilihan dilematis apakah dalam kehidupannya peserta didik akan berorientasi pada sense of Being atau sense of Having. Manusia berkarakter adalah manusia yang dapat menentukan pilihan atas keberadaan diri, pilihan di antara sense of Being dan sense of Having.


bersambung .......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar